Sabtu, 06 Agustus 2011

Rokok, Lawan dan Kawan

Waktu di tangan saya menunjukkan pagi menjelang siang. Di dalam bus Ijo jurusan Surabaya-Mojokerto, saya merasakan betul hawa panas yang luar biasa. Peluh terus bergulir. Asap motor penuh karbonmonoksida mau tak mau terhirup dan terhidu.
Satu tangan saya tergantung pada sebuah palang besi di atas, agar saya tetap stabil berdiri. Sedangkan tangan satunya lagi sebagai sarana berjaga, andai saja ada tangan lincah yang mau menyergap saku saya. OK, betapa posisi yang sungguh tak nyaman. Bapak-bapak di depan saya berdiri sekonyong-konyong mengambil sebuah barang disakunya, lalu diambilnya pemantik. Ia merokok dengan sukacita dan menghembuskan asap surga itu bagaikan dunia miliknya seorang. Saya pun tak bisa berkutik, saya hanya meratapi umur saya yang berkurang T_T




Tanggal 31 Mei 2011, seluruh warga dunia serentak memperingati Hari Tanpa Tembakau Dunia. Sebuah momentum untuk menyadarkan masyarakat dari tidur panjang.
Sebenarnya masalah rokok ini adalah hal yang memalukan. Kita setiap hari berperang terhadap TBC, kanker, diare, dan lainnya. Masyarakat takut terhadap penyakit itu. Namun rokok? Rokok yang lawan dianggap kawan, bahkan sahabat sejati.
Kita sudah tahu persis di bungkus rokok sudah tertulis dengan jelas efek buruknya, ribuan racun di dalamnya, membuat kecanduan. Namun rokok tetap menjadi primadona.
Keprimadonaan rokok ini menyebar ke seluruh lapisan. Dari  masyarakat miskin hingga kalangan eksekutif. Dari kanak-kanak hingga dewasa bahkan lansia. Masalah rokok menjadi sangat mengakar di dalam kemelut kesehatan kita.
Rokok pun menghasilkan masalah ekonomi yang tak mudah. Dari efek pendapatannya bisa dimulai dari usaha kecil rumahan hingga perusahan-perusahaan elite. Bahkan orang-orang terkaya di negeri kita berasal dari tembakau! Mirisnya, di samping itu terdapat pengeluaran yang luar biasa pula dari pengobatan seorang kanker paru, pengobatan penykit paru obstruktif menahun, bahkan gangguan janin. Semua bagai buah simalakama.
Memang rokok bukan sekedar masalah kesehatan, namun sudah merajut ke akar ekonomi, dan sosial budaya.  Maka dari itu Badan Kesehatan Dunia (WHO) menelurkan tema tahun ini yaitu The WHO Framework Convention on Tobacco Control. Sebuah upaya untuk menemukan jalan terbaik dalam menanggulang masalah ini.
Memang benar itu usaha WHO, namun kita sebagai masyarakat juga perlu proaktif dalam masalah ini. Saling mengingatkan kerabat, memotivasi orang, sehingga masalah ini pun berkurang, paling tidak di sekeliling kita. Dan akhirnya hal ini tak lagi menjadi masalah kesehatan dunia.


            

0 komentar:

Posting Komentar